Personal Branding VS Stay True to Yourself: Pilih Mana?                                                                                          

Kata orang, jangan langsung menilai sesuatu dari tampilan luarnya saja atau “Don’t judge a book by its cover,”. Kedengarannya, sih, klise ya KawanWH, tapi kenyataannya kita sering banget menilai orang cuma dari permukaannya. Padahal, setiap orang punya cerita dan sisi unik yang nggak bisa langsung kelihatan di awal. Nah, kali ini, Siti bakal bahas pengalaman salah satu mahasiswa dari jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menunjukkan bahwa penilaian yang terlalu cepat bisa bikin kita salah paham. Lewat seni, ia menemukan cara untuk melawan penilaian sempit itu dan menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya. Yuk, Siti kenalin!

Lebih dari yang Terlihat

Alicia Jovanka atau yang lebih akrab disapa Jovan merupakan seorang mahasiswi Seni Rupa FSRD ITB yang sekaligus adalah Ketua Himpunan jurusannya. Bagi Jovan, pilihannya untuk masuk ke jurusan Seni Rupa di FSRD ITB sudah menjadi impiannya sejak lama. Menariknya, waktu awal mendaftar, Jovan berkata ke orang tuanya akan mendaftar jurusan DKV agar lebih mudah diizini, yang padahal, dari awal sudah mantap di Seni Rupa. Alasannya simple tapi kuat: menurutnya, Seni Rupa adalah ruang yang jauh lebih vokal dan ekspresif dibanding jurusan lain. Bahkan, Jovan pernah mendapat kabar burung bahwa jurusan selain Seni Rupa itu lebih ke arah “problem solving,” sementara Seni Rupa justru “creating problems.” Maksudnya, dalam arti positif—membuat karya seni yang mengusik, mempertanyakan, dan membuat orang berpikir: “Sebenarnya karya ini mau ngomongin apa, ya,”?

Jovan ingin menjadi sosok yang bukan hanya menyelesaikan masalah, tapi juga memicu percakapan baru lewat karya-karyanya. Menurutnya, Seni Rupa itu media yang fleksibel, lho, KawanWH! Nggak cuma soal melukis, terdapat juga eksplorasi teknologi, sejarah, dan isu-isu sosial yang relevan. Untuk Jovan, seni adalah cara yang powerful untuk menyampaikan kritik tanpa harus blak-blakan. Seni punya lapisan maknanya tersendiri yang akan membuat orang merenung.

Selain itu, Jovan juga dikenal dengan rambut pink-nya yang mencolok. Ternyata, warna itu bukan hanya sekadar gaya. Sejak kecil, ia sudah menyukai warna pink karena tumbuh dengan Disney Princess dan karakter Sanrio. Namun ketika remaja, ia menjauh dari warna tersebut akibat dari lingkungan yang mayoritasnya laki-laki. Setelah dewasa, ia sadar bahwa warna pink adalah ekspresi feminin sekaligus simbol kekuatan dirinya.

First Impression: Sebuah Pisau Bermata Dua

Jovan mengakui bahwa penilaian dari penampilan luar itu hal yang tidak bisa dihindari, apalagi saat pertama kali masuk ke lingkungan baru. KawanWH pernah nggak sih, dipandang sebelah mata oleh orang lain yang bahkan belum pernah berinteraksi secara langsung? Nah, Jovan pernah merasakannya sewaktu ia mendaftar menjadi anggota keamanan di salah satu acara kampus. Mayoritas panitianya berasal dari jurusan teknik, dan mahasiswa FSRD jarang mengambil posisi itu, sehingga Jovan sempat dianggap tidak cukup kuat. Namun, seiring berjalannya waktu, penilaian sepihak itu pada akhirnya memudar juga. 

Menurut Jovan, first impression itu wajar dan pada akhirnya akan luntur seiring dengan interaksi yang lebih dalam. Tantangannya justru datang ketika orang-orang mempunyai ekspektasi tertentu hanya dari penampilan—misalnya, karena tampil nyentrik, orang malah berharap dia lebih liar, lebih “vokal”, atau bahkan asumsi yang lebih ekstrem. Padahal, nggak semua hal bisa disimpulkan cuma dari penampilan. Untuk itu, Jovan belajar untuk tetap tampil presentable, dipadukan dengan jati dirinya sendiri. Adaptasi, katanya, harus datang dari diri kita terlebih dulu, bukan menunggu lingkungan yang akan berubah.

Di FSRD ITB yang penuh karakter unik, Jovan melihat penampilan luar sebagai bentuk ekspresi emosi dan perasaan. Namun menurutnya, identitas seseorang tidak bisa dinilai hanya dari tampilan fisik. Banyak lho, mahasiswa dengan gaya sederhana tapi pemikirannya tajam dan vokal soal isu penting. Bagi Jovan, penampilan dan identitas memang bisa nyambung, tapi tidak selalu sejalan. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang membawa diri dan menyampaikan nilai yang ia yakini.

Eksentrik Bukan Berarti Kosong

Bagi Jovan, seni bukan cuma sekadar gambar di kanvas atau patung di galeri. Lebih dari itu, seni adalah medium bebas yang bisa jadi jembatan untuk menyampaikan ide dan perasaan yang sering kali tidak bisa diungkapkan melalui kata-kata biasa. Ia percaya bahwa yang paling penting dari sebuah karya bukanlah dari tampilannya, tapi pesan yang ingin disampaikan oleh senimannya. Bahkan di dunia seni, penilaian superficial seperti teknik atau bentuk bisa dibilang hanya berlaku di ruang-ruang akademik atau kuratorial. Di luar itu, seni bersifat sangat luas, penuh kontradiksi, dan justru memperlihatkan keberagaman dalam bentuk paling jujur.

Sebagai mahasiswa Seni Rupa, Jovan merasa dunia seni jauh lebih terbuka terhadap eksentrikisme dan kebebasan berekspresi. Ia bisa membuat karya yang kontroversial sekalipun tanpa takut harus ditolak mentah-mentah. Tantangannya bukan hanya sekadar soal sikap pribadi, tetapi juga mengajak orang lain untuk berhenti menilai secara cepat. Menurutnya, kesalahan tidak selalu datang dari apa yang dinilai, tapi dari orang yang memilih untuk tidak membuka ruang pemahaman yang lebih dalam sejak awal.

Akhir kata, Jovan berpesan sederhana namun penting “Kita hidup di era yang serba terbuka, jadi sudah saatnya berhenti menilai orang hanya dari kulit luarnya. Setiap orang mempunyai latar belakang, pengalaman, dan cara berekspresi yang berbeda. Jadi, sebelum melabeli seseorang, ada baiknya kita ambil waktu untuk benar-benar mengenal,” ya KawanWH! Karena siapa tahu, di balik penampilan yang nyentrik atau beda dari kita, tersimpan pemikiran yang justru bisa membuka perspektif baru.