Akar Konflik dan Faktor Geopolitik dan Serangan Teroris Memicu Ketegangan Baru di Kashmir
Pada Rabu (22/4), sebuah serangan teroris di Pahalgam, Kashmir, menewaskan 24 orang dan melukai puluhan lainnya. Kelompok militan yang diduga berafiliasi dengan Pakistan, mengklaim bertanggung jawab, dimana hal ini memicu lonjakan ketegangan antara India dan Pakistan—dua negara bersenjata nuklir dengan sejarah konflik panjang. Insiden ini menyoroti kembali posisi Kashmir sebagai pusat konflik geopolitik yang rawan meledak. Sengketa wilayah tersebut telah menjadi akar pertentangan sejak pembagian India pada 1947. Meski Perjanjian Simla 1972 dan gencatan senjata 2003 sempat meredakan ketegangan, situasi kembali memburuk dalam beberapa bulan terakhir. India meningkatkan operasi militernya di Kashmir, sementara Pakistan memperkuat posisi di sepanjang Line of Control (LoC). Ketegangan ini semakin diperumit dengan adanya oleh perselisihan terkait Perjanjian Air Indus antara kedua negara tersebut.
Operasi Militer dan Diplomasi Agresif India dalam Menanggapi Terorisme Lintas Batas
Menanggapi serangan teroris, pada Selasa (7/5), India meluncurkan Operasi Sindoor, yang melibatkan serangan rudal presisi ke sembilan target strategis di Pakistan, termasuk Pangkalan Udara Nur Khan. Dilansir dari The Economic Times, dalam konferensi pers (13/5), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri India, Randhir Jaiswal, menyebut serangan itu sebagai respons langsung terhadap terorisme lintas batas dan langkah untuk mencegah korban sipil lebih lanjut. Ia menegaskan bahwa infrastruktur yang dihancurkan, terlibat dalam kematian warga India dan korban sipil yang bukan warga India. Ministry of External Affairs (MEA) menyebut fase baru hubungan India-Pakistan sebagai “normal baru,” menunjukkan pendekatan yang lebih tegas terhadap ancaman lintas batas. Di jalur diplomatik, India mengusir tiga diplomat militer Pakistan, memangkas staf kedutaan, serta membentuk delegasi lintas partai untuk berkampanye global melawan Pakistan. Strategi ini bertujuan memperkuat posisi India di panggung dunia. Langkah signifikan lainnya ialah penangguhan Perjanjian Air Indus, simbol tekanan ekonomi dan dominasi politik New Delhi. Penutupan perbatasan darat dan udara serta larangan visa bagi warga Pakistan memperkuat isolasi Islamabad. Kombinasi kekuatan militer dan diplomasi ini mencerminkan perubahan pendekatan India dalam menghadapi konflik yang terus meningkat dengan Pakistan.
Strategi Diplomatik dan Aliansi Militer Pakistan Hadapi Tekanan India
Sementara itu, dilansir dari BBC News, Pakistan membantah keterlibatan dalam serangan teroris dan mengecam aksi militer India sebagai tidak berdasar. Perdana Menteri Shehbaz Sharif menegaskan bahwa “tindakan agresi yang kejam tidak akan dibiarkan begitu saja.” Meski belum ada balasan militer besar, Pakistan merespons melalui jalur diplomatik. Pakistan mengirimkan delegasi “perdamaian” ke sejumlah negara untuk menyeimbangi kampanye India yang menudingnya sebagai pendukung terorisme lintas batas. Strategi ini disebut “copy-paste diplomacy,” yakni upaya memperbaiki citra global dan membentuk narasi sebagai pihak yang difitnah. Selain itu, Pakistan juga memperkuat kemitraan strategisnya dengan China. Dilansir dari The Times of India, China memberikan dukungan sistem pertahanan udara dan teknologi satelit sebagai respons atas dimulainya Operasi Sindoor oleh India. Dukungan ini mencerminkan peningkatan kerja sama militer kedua negara. Secara keseluruhan, respons diplomatik Pakistan menunjukkan pendekatan lebih aktif dan terkoordinasi dalam menghadapi tekanan India dan menjaga posisi globalnya.
Mediasi Barat Hasilkan Gencatan Senjata Namun Ketegangan Masih MengancamPada Jumat (10/5), melalui mediasi intensif yang dipimpin Amerika Serikat dan Inggris, kedua negara sepakat menerapkan gencatan senjata sebagai hasil tekanan diplomatik kuat dari Washington dan London guna meredam potensi eskalasi konflik. Dilansir dari Reuters, Menteri Luar Negeri Inggris, David Lammy, menegaskan bahwa kesepakatan ini lahir dari kerja sama erat kedua negara Barat dalam menjaga stabilitas kawasan. Namun, meskipun perjanjian telah disepakati, pelanggaran perbatasan tetap terjadi beberapa jam setelah pengumuman, patroli militer, tembakan artileri, dan penggunaan drone kembali berlangsung di sepanjang LoC, dengan kedua pihak saling tuding melanggar kesepakatan. Situasi ini menunjukkan rapuhnya perdamaian yang telah dicapai. Para pengamat menilai bahwa tanpa komitmen politik yang kuat dan berkelanjutan dari kedua negara, risiko eskalasi konflik terbuka tetap sangat tinggi. Akibatnya, gencatan senjata ini pun dipandang hanya sebagai jeda sementara dalam perseteruan panjang yang terus berlarut-larut.