Cafés, Comfort, and Community: Inside Gen Z’s Favorite Third Place

Have You Looked Around?

Apakah KawanWH familiar dengan third places?  

Nah, Konsep third places menjadi mudah dipahami ketika kita meluangkan waktu untuk mengamati ruang-ruang yang kita lewati setiap hari. 

Kafe, bar, hingga bangku-bangku di bahu jalan yang dipenuhi orang dari berbagai usia yang sekadar duduk, berbincang, atau menghabiskan waktu bersama merupakan contoh dari fenomena tersebut. Meski terkesan sederhana, di sanalah kehidupan sosial urban dapat berlangsung dan berkembang secara organik.

Understanding Third Places

Istilah third place pertama kali diperkenalkan oleh Ray Oldenburg untuk menggambarkan ruang di antara rumah (first place) dan tempat kerja (second place). Berbeda dari ruang privat atau formal, third place memberi kesempatan bagi masyarakat untuk membangun koneksi sosial, berbagi percakapan, dan merasa terhubung dengan komunitas di sekitarnya.

From Parks to Coffee Shops

Di tengah perkembangan kota di Asia Tenggara yang semakin padat, ruang publik terbuka semakin terbatas akibat pembangunan urban. Kondisi ini membuat fungsi third place perlahan bergeser dari taman atau ruang publik menjadi ruang komersial seperti kafe. Survei StatsMe menunjukkan mayoritas Gen Z (75,56%) kini memilih kafe sebagai tempat berkumpul, bekerja, dan menghabiskan waktu sehari-hari. Sisanya (22,44%) memilih angkringan atau warung kopi.

Cafés as Modern Social Spaces 

Fenomena sebelumnya dapat dijelaskan melalui meningkatnya ketertarikan Gen Z pada kedai kopi atau kafe. Hal ini  terdapat dalam penelitian Coffee Culture: Gen Z and Coffee Shops dalam Indonesian Journal of Multidisciplinary Science. Bagi Gen Z, coffee shop tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat menikmati kopi. Kafe berkembang menjadi ruang untuk berdiskusi, bekerja, mencari inspirasi, hingga membangun hubungan sosial. Di Indonesia sendiri, budaya ngopi telah hadir sejak masa kolonial Belanda dan awalnya digunakan dalam berbagai aktivitas sosial sebagai simbol kebersamaan. Kini, budaya tersebut terus berkembang mengikuti gaya hidup masyarakat urban modern.

Finding a Space to Breathe 

Kafe sebagai bentuk third place menunjukkan bagaimana ruang informal masih memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya menjadi tempat berkumpul, kafe juga menjadi ruang untuk mencari jeda dari rutinitas dan merasa terhubung dengan orang lain. Orang-orang yang duduk di kafe, berbincang, membuka laptop, atau sekadar menghabiskan waktu mungkin terlihat menjalankan aktivitas biasa. Namun, momen-momen kecil yang repetitif itu diam-diam membentuk kehidupan urban sehari-hari.