KawanWH, pernah nggak sih kalian membeli sesuatu yang terasa sangat penting di awal, tetapi kemudian nyaris tidak pernah digunakan? Barang itu sekarang hanya menjadi dekorasi mati yang perlahan menangkap debu. Hampir semua dari kita pasti memiliki benda seperti itu di kamar. Sebuah barang yang pada suatu hari terasa wajib dimiliki demi masa depan yang lebih baik, tetapi beberapa lama kemudian menjelma menjadi tumpukan benda yang terlupakan.
Kita Tidak Selalu Membeli Barang, Kita Membeli Harapan
Ketika kita melihat keranjang belanja online, kita tidak sekadar mencari fungsi barang, melainkan memberi gambaran tentang versi terbaik dari diri kita sendiri. Membeli buku fiksi tebal yang menjadi viral di TikTok sama juga dengan membeli baju olahraga bernuansa hijau untuk menebus rasa bersalah karena jarang bergerak. Algoritma media sosial banyak memanfaatkan fenomena psikologis ini dengan mengeksploitasi rasa tidak aman (insecurity) manusia untuk mendorong keputusan belanja yang impulsif.
Di Indonesia, fenomena ini juga terlihat jelas dari tingginya aktivitas belanja online. Menurut data IdScore.id, lebih dari 65% penduduk Indonesia telah menjadikan belanja online sebagai bagian penting dari gaya hidup mereka, dengan 87% pengguna e-commerce aktif bertransaksi secara spontan melalui fitur Live Shopping akibat tekanan visual ala Pinterest. Selain itu, penelitian tentang sosiologi konsumen menemukan bahwa faktor utama yang mendorong Gen Z untuk melakukan co-checkout (membeli barang) dalam kondisi emosional adalah kemudahan akses ke fitur Paylater. KawanWH, dari sini kita bisa melihat bahwa banyak pembelian terjadi bukan karena kebutuhan, melainkan karena keinginan untuk menjadi versi diri yang dianggap lebih ideal.
Ketika Paket Datang dan Kebahagiaan Yang Cepat Hilang
“Pakeettt!!” teriakan yang sering kita tunggu setelah melakukan checkout suatu barang yang dapat memicu ledakan dopamin (dopamine rush) yang luar biasa di dalam otak. Sensasi dari unboxing paket hingga memegang barang yang kita tunggu tentunya memberikan kepuasan instan, karena kita merasa telah berhasil melangkah satu tapak menuju kehidupan baru yang lebih rapi atau estetik. Sayangnya, euforia itu cepat berlalu. Beberapa menit setelah unboxing, rasa senang mulai memudar dan semuanya kembali seperti biasa.
Penurunan dopamin ini adalah fakta perilaku yang dapat diukur dengan statistik dan bukan sekadar perasaan pribadi. Dalam artikel ilmiah berjudul “FOMO, Materialism and the Gen Z Shopping Behavior,” yang dirilis oleh Jurnal Aplikasi Manajemen (2025), ditemukan bukti empiris bahwa jeratan psikologis digital seperti FOMO berkontribusi menjelaskan 62,6% tindakan belanja impulsif pada Gen Z di Indonesia. Dorongan emosional ini sayangnya bertindak sebagai jembatan langsung menuju post-purchase regret atau penyesalan mendalam. Didorong oleh tekanan waktu (time pressure) dari hitung mundur flash sale, kita kerap membeli dalam kondisi kesadaran yang terdistorsi. Begitu paket tiba, barulah kita sadar bahwa produk tersebut hanya memangkas saldo tabungan alih-alih mengubah hidup kita. Apakah KawanWH juga pernah mendapati diri terjebak dalam siklus penyesalan yang persis sama?”
Monumen Kecil di Pojok Kamar
Pada akhirnya, barang-barang yang pernah kita beli dengan penuh harapan sering kali berakhir terlupakan di sudut kamar. Lampu sunset yang tersimpan di bawah kasur, jurnal estetik yang hanya terisi beberapa halaman, atau rak organizer yang kini dipenuhi debu menjadi pengingat bahwa semangat untuk berubah tidak selalu bertahan lama. Benda-benda itu tampaknya menyimpan cerita tentang versi diri kita yang pernah kita inginkan, tetapi gagal kita pertahankan.
Menariknya, kejenuhan terhadap budaya konsumsi berlebihan mulai melahirkan tren tandingan di media sosial. Saat ini, media sosial mulai dipenuhi dengan tren “Core Underconsumption” dan gerakan “De-Influencing“. Mereka mengkampanyekan “Project Pan“—komitmen untuk menghabiskan kosmetik lama sebelum membeli yang baru—serta mengunggah video kejujuran tentang kamar tidur mereka yang tidak sempurna. KawanWH, kini botol minum yang sudah lecet karena dipakai bertahun-tahun sering kali lebih membanggakan daripada barang baru. Di baliknya, ada keinginan untuk lepas dari dorongan konsumsi yang tak ada habisnya dan menjalani hidup dengan ritme yang lebih tenang.
Ketika Yang Dicari Bukan Barangnya
Terkadang mungkin bukan karena kita terlalu banyak mengonsumsi. Sangat mungkin bahwa kita terlalu sering berasumsi bahwa pembelian berikutnya adalah hasil dari penampilan terbaik kita. Sehingga kita mulai mencari barang-barang yang menjanjikan perubahan, tetapi sebenarnya yang kita cari adalah rasa cukup, rasa diterima, atau harapan bahwa hidup kita akan menjadi lebih baik setelah paket itu tiba.
Meskipun demikian, kehidupan kita akan terus berlanjut dengan benda-benda biasa yang telah menemani kita selama bertahun-tahun, bahkan ketika layar ponsel dimatikan dan euforia checkout perlahan berkurang. Mungkin tas yang mulai memudar warnanya karena sering kita bawa ke kampus atau berpergian, dompet yang jahitannya mulai lepas, meja belajar yang dipenuhi bekas coretan, atau jaket yang diam-diam menjadi saksi berbagai fase kehidupan. Benda-benda tersebut tidak pernah menjanjikan versi diri yang lebih baik, tetapi tetap bertahan menemani kita apa adanya.
Jadi, KawanWH, jika benda-benda sederhana yang telah menemani kita selama ini sudah cukup berarti, mengapa kita masih percaya bahwa versi terbaik diri kita selalu menunggu di balik checkout berikutnya?