Sudah pukul dua dini hari, tapi laptop masih menyala karena tugas belum selesai. Begitu membuka media sosial, linimasa dipenuhi konten tentang self-care, healing, dan kesehatan mental. Generasi muda kerap dipandang sebagai generasi yang semakin sadar akan pentingnya kesehatan mental, namun di sisi lain kita juga menjadi generasi yang paling sering merasa lelah—seolah kesadaran itu tumbuh beriringan dengan beban yang ikut meningkat. KawanWH, pernah nggak sih berada di posisi ini? Mayoritas Gen Z merasa bahwa kebahagiaan tidak lagi sebagai sesuatu yang stabil; ia datang dan pergi mengikuti ritme kehidupan yang semakin cepat. Namun menariknya, alih-alih diam dalam kelelahan, banyak dari mereka justru terus bergerak untuk mencari jawaban.
Burnout menjadi Pengalaman Baru
Fenomena kelelahan mental ini bukan lagi sekadar perasaan individual. Pada tahun 2025, sekitar 52% karyawan Indonesia mengalami kelelahan kerja kronis, dengan Gen Z menjadi kelompok yang paling rentan mengalami burnout, menunjukkan bahwa kelelahan kini semakin umum dirasakan generasi muda. Tekanan akademik maupun pekerjaan, tuntutan produktivitas, hingga technostress—ketika perkembangan teknologi bergerak lebih cepat daripada kemampuan individu untuk mengikutinya—sering kali memaksa kita untuk terus beradaptasi dengan cepat. Terdengar melelahkan, bukan KawanWH? Namun menariknya, kondisi ini juga memperlihatkan sesuatu yang unik: Gen Z tidak selalu berhenti hanya karena merasa lelah. Sebaliknya, banyak dari mereka mulai mencari cara untuk memahami diri sendiri, membaca lebih banyak tentang kesehatan mental, hingga menemukan strategi agar tetap dapat menjalani kehidupan dengan lebih seimbang.
Kebahagiaan yang Tidak Lagi Statis
Di tengah tingginya tingkat kelelahan tersebut, laporan Jobstreet by SEEK justru menunjukkan gambaran yang menarik: Indonesia tercatat memiliki tingkat kebahagiaan kerja tertinggi di kawasan Asia-Pasifik dengan skor 82%, diikuti oleh Filipina dan Malaysia. Lalu muncul pertanyaan: Bagaimana mungkin burnout (52%) dan kebahagiaan kerja (82%) bisa hidup berdampingan? Fenomena ini menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak lagi bersifat statis. Bagi banyak Gen Z, kebahagiaan lebih menyerupai proses yang fluktuatif, terus bergerak naik-turun mengikuti pengalaman hidup. Seseorang bisa merasa lelah menghadapi tuntutan yang ada, namun di saat yang sama tetap merasa bermakna karena mampu terus melangkah. Di sinilah dinamika Moments in Motion terasa nyata: ketika energi tetap mengalir meski jalannya tidak selalu mudah, sekaligus mendorong kesadaran bahwa memahami kesehatan mental menjadi langkah penting untuk tetap bergerak di tengah tekanan.
Generasi yang Belajar Memahami Diri
Kesadaran akan kesehatan mental terlihat dari cara generasi muda mencari informasi, salah satunya melalui konten edukasi di Instagram seperti @karsacita.id. Penelitian yang dilakukan oleh Mazaya, Agustini, dan Rukmana (2025) menunjukkan bahwa Generasi Z memiliki kebutuhan informasi yang tinggi mengenai kesehatan mental dan secara aktif mencarinya melalui media sosial. Studi tersebut juga menemukan bahwa sekitar 65% pengguna media sosial merasa lebih siap dan tenang dalam menghadapi tantangan kesehatan mental setelah mengakses konten edukasi secara digital. Platform seperti Instagram pun tidak lagi sekadar menjadi tempat berbagi foto atau hiburan, tetapi juga ruang untuk memahami isu seperti kecemasan, stres, hingga pengembangan diri. Bahkan, sekitar 50% responden mengaku terdorong untuk mencari bantuan profesional setelah mengakses informasi kesehatan mental secara mandiri. Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya bertahan dari tekanan, tetapi juga mulai membangun literasi kesehatan mental untuk memahami dan mengelola dinamika emosi mereka.
Bergerak adalah Bentuk Bahagia
Pada akhirnya, 20 Maret yang diperingati sebagai International Day of Happiness bukan hanya tentang merayakan kebahagiaan, melainkan merayakan keberanian untuk tetap bergerak di tengah rasa lelah. Saat KawanWH merasa burnout tapi tetap memilih untuk memahami diri dan peduli pada sesama, di situlah energi kecil sedang membentuk identitas yang lebih tangguh. Bagi generasi kita, kebahagiaan mungkin tidak selalu berarti hidup tanpa tekanan. Namun selama kita masih terus bergerak, belajar memahami diri, dan berusaha menjadi lebih baik dari hari ke hari, kebahagiaan itu tetap tumbuh dalam prosesnya. Jadi ingat, KawanWH—kita tidak sedang padam; kita hanya sedang bergerak dengan cara yang lebih bermakna.