Melalui Film dan Budaya, Marylin Igboke Menjembatani Berbagai Sisi yang Membentuk Dirinya

Melalui Film dan Budaya, Marylin Igboke Menjembatani Berbagai Sisi yang Membentuk Dirinya

Ketika ditanya berapa banyak film yang telah Ia tonton setiap tahunnya, Marylin perlu berpikir sejenak sebelum menjawab. Angkanya sudah melampaui seratus dan, jika sesuai rencana, akan mencapai 150 sebelum tahun ini berakhir.

Nah, KawanWH, bagi Mahasiswi Produksi Media itu, film telah menjadi bagian besar dari kesehariannya.

Beliau menyebut The Florida Project (2017) sebagai salah satu film yang membekas karena berhasil membuat isu berat terasa lebih dekat dan manusiawi. Ada pula The Secret Life of Walter Mitty (2014), yang ia sukai karena sinematografinya yang khas serta storytelling unik tentang pencarian arah hidup. Sementara itu, Pariah (2011) yang merupakan sebuah film tentang pencarian identitas dan penerimaan diri, juga meninggalkan kesan mendalam baginya.

Dari ratusan film yang telah ditonton, ketertarikan Marylin terhadap medium ini tidak pernah benar-benar habis.  Ia kerap menonton suatu karya lebih dari sekali. Baginya, menikmati film berarti meresapi cerita sekaligus berburu detail yang terlewat, karena Ia percaya tiap film selalu menawarkan perspektif baru. Barangkali itu pula yang membuat hubungannya dengan film tidak berhenti ketika kredit penutup mulai bergulir. 

Mengenal Marylin Nnena Igboke

KawanWh, kemarin Siti berkesempatan untuk berbincang dengan Marylin Nnena Igboke, seorang mahasiswi semester 4 Program Studi Produksi Media, Universitas Indonesia, yang saat ini tengah menjalani program magang mandiri sekaligus aktif membuat konten di TikTok. 

Meski sinema telah menjadi bagian penting dalam hidupnya, awalnya Ia justru tertarik pada antropologi. Yang menarik perhatiannya saat itu adalah cerita-cerita tentang manusia dan budaya.

Dunia layar lebar pada akhirnya terasa sebagai ruang yang lebih dekat baginya. Hal itu tidak lepas dari pengalamannya berkutat di dunia broadcasting sejak SMK. Dari sana, ketertarikannya terhadap film tidak hanya berhenti sebagai penonton, tetapi juga tumbuh menjadi keinginan untuk suatu hari berkarya sebagai sineas.

Bagi Marylin, medium ini juga memiliki tempat yang lebih personal dalam dirinya. Pada masa tertentu dalam hidupnya, menonton menjadi tempat baginya untuk sejenak menjauh dari berbagai persoalan yang sedang dihadapi. Setelah musik, menurutnya karya visual merupakan medium yang paling ampuh dalam menghadirkan pengalaman tersebut.

Lebih dekat lagi dengan dunia perfilman, sebelum menjadi mahasiswa, Ia pernah  berkontribusi dalam proyek-proyek film pendek yang memberinya pemahaman mengenai cara kerja industri film sekaligus memperkenalkannya pada lanskap perfilman Jakarta.

Memahami Cerita di Balik Layar

Marylin mengaku bahwa berada di lingkungan dengan minat dan ketertarikan yang serupa tidak banyak memengaruhi cara Ia membentuk pandangan terhadap sebuah karya. Baginya, penilaian terhadap film tetap berangkat dari pengalaman menonton itu sendiri.

Yang berubah justru caranya memahami apa yang terjadi di balik layar. Semakin dekat dengan industri film, semakin Ia menyadari bahwa sebuah karya tidak hanya dibentuk oleh kreativitas, tetapi juga oleh proses kerja yang panjang, tanggung jawab, dan etika yang menyertainya. Pemahaman itu membuatnya semakin menghargai film sebagai hasil kerja kolektif.

Meski aktif di industri tersebut, Marylin tidak merasa perlu memiliki pendapat tentang segala hal. Ada film yang mengundangnya untuk berpikir lebih jauh, tetapi ada pula yang cukup dinikmati apa adanya. Baginya, tidak semua hal harus selalu ditanggapi atau diurai panjang lebar.

Tentang Identitas, Budaya, dan Rasa Memiliki

Sebagai individu berdarah Nigeria dan Indonesia, Marylin tumbuh bersama pertanyaan-pertanyaan yang tidak selalu mudah dijawab—“Who am I?” dan “Where do I belong?” kerap hadir dalam benaknya.

Sebagian dari pertanyaan itu kembali muncul ketika ia terlibat dalam film dokumenter African Roots: The Hearts of Little Black Sheep pada 2024. Sebagai talent coordinator sekaligus narasumber, Ia berkesempatan berbincang dengan sejumlah individu berdarah Afrika yang tumbuh di Indonesia, seperti Chancelline yang berdarah Nigeria dan Atta yang berdarah Ghana, serta banyak individu lainnya.

Marylin menemukan kegelisahan yang sudah tidak asing lagi baginya. Tentang tumbuh di antara dua budaya dan mempertanyakan di mana dirinya berada. Bagi banyak third culture kids, pencarian semacam itu rupanya bukan pengalaman yang langka.

Ia pun pernah berada di titik yang sama. Ada masa ketika Ia mempertanyakan kedekatannya dengan identitas Indonesia. Ada pula masa ketika ia lebih banyak menoleh ke Black Culture. Jika mengingatnya sekarang, Marylin melihat semua fase itu sebagai bagian dari proses yang membawanya ke tempat ia berdiri hari ini.

Seiring waktu, pertanyaan tentang identitas tidak lagi terasa mendesak seperti dulu. Di usia dua puluhan,  Ia percaya bahwa seseorang bisa menjadi pribadi yang sangat berbeda dibanding dirinya setahun yang lalu, manusia makhluk yang dinamis dan pastinya akan terus berubah. Alih-alih memilih satu versi diri yang paling “benar”, Marylin memilih menerima semuanya sebagai bagian dari dirinya. 

Menyuarakan yang Belum Banyak Didengar

Pemikiran serupa kembali mengemuka pada Februari lalu. Selama Black History Month, Marylin mengunggah sekitar tiga puluh konten yang membahas sejarah, budaya, film, dan pengalaman komunitas kulit hitam. Awalnya, Ia ragu. Topik tersebut jarang menjadi bagian dari percakapan sehari-hari, dan Iia tidak yakin banyak orang akan tertarik. 

Respons yang datang justru memperlihatkan hal sebaliknya. Di balik rasa penasaran yang muncul, Marylin melihat bahwa ruang untuk membicarakan pengalaman komunitas kulit hitam di Indonesia masih terbilang terbatas. Beberapa pertanyaan yang Ia terima bahkan membuatnya cukup terkejut. Seseorang pernah bertanya, “Boleh bilang N-Word, nggak?”

Tak heran, bahkan di Hollywood sekalipun, representasi orang kulit hitam masih kerap tidak utuh. Meski disayangkan, Marylin memahami bahwa hal tersebut berakar pada sejarah panjang rasisme dan pengalaman komunitas kulit hitam yang rumit. Karena itu, kritik terhadap industri film maupun Oscars yang dianggap rasis tidak dapat dilepaskan dari persoalan yang lebih besar dan kompleks.

Di tengah semua itu, Marylin merasa sedang melakukan dua hal sekaligus. Ia membagikan apa yang dipelajarinya sembari memahami diri dan budayanya sendiri sedikit demi sedikit. “I want to educate people, while educating myself too,” ujarnya. “Aku mau jadi perantara antar keduanya.”

Menemukan Rumah dalam Diri Sendiri

Jika ditarik satu benang merah yang menghubungkan kecintaannya pada film, identitasnya sebagai seorang Indonesia-Nigeria, dan berbagai pengalaman hidupnya, jawabannya mungkin bermuara pada rasa nyaman. Seiring waktu, Marylin belajar menerima berbagai sisi yang membentuk dirinya.

KawanWH, mengejar rasa ingin tahu di tengah arus yang serba cepat memang tidak mudah. Namun, Marylin membuktikan bahwa memegang teguh idealisme dan menjadi diri sendiri adalah sebuah keberanian. Ke depan, ia memilih tetap fokus pada kisah-kisah yang luput dari perhatian.

Dari apa yang sudah Siti bahas bersama Marylin, kita diingatkan bahwa kenyamanan sejati justru lahir saat kita berani merangkul diri sendiri serta tetap setia pada apa yang kita yakini.