THE QUIET LANDSLIDE WITHIN US

KawanWH, pernah tidak kalian melihat diri sendiri lalu merasa seperti sedang berbicara dengan orang yang berbeda? Hal-hal yang dulu terasa mudah sekarang mendadak menjadi sesuatu yang melelahkan. Pertemanan yang dulu hangat kini terasa dingin. Cara kita menghadapi masalah pun perlahan berubah. Dulu kita bisa menangis keras ketika sedih, sekarang justru memilih diam dan memendam semuanya sendiri. Rasanya seperti ada bagian dari diri kita yang pelan-pelan hilang di tengah perjalanan menjadi dewasa.

Perasaan itulah yang mengalir pelan dalam lagu Landslide milik Fleetwood Mac. Lagu ini tidak berbicara tentang kehancuran besar dengan suara yang bising, melainkan tentang perubahan yang datang diam-diam, tetapi menggeser hidup seseorang secara perlahan. Seperti longsor kecil yang awalnya tak terasa, lalu tiba-tiba membuat seluruh tanah di bawah kaki berubah bentuk. Tidak ada suara yang benar-benar menggelegar, tetapi ketika semuanya selesai, kita sadar ada banyak hal dalam diri kita yang sudah berubah.

A Different Kind of Growing

Ada satu bagian dari lagu ini yang terasa begitu dekat dengan banyak orang:

“Well, I’ve been afraid of changin’
’Cause I’ve built my life around you”

Kadang yang membuat perubahan terasa menyakitkan bukan karena kita tidak mampu melewatinya, tetapi karena kita terlalu lama terbiasa hidup dengan versi lama dari diri kita sendiri. Kita terbiasa menjadi orang yang ceria, yang selalu ada untuk orang lain, yang mudah percaya, yang mudah memaafkan. Namun kenyataannya, hidup pelan-pelan mengubah semuanya.

Ada rasa rindu terhadap diri sendiri yang kadang sulit dijelaskan kepada siapa pun. Rindu terhadap versi diri yang dulu lebih ringan menjalani hidup. Versi yang tidak terlalu takut kecewa. Versi yang tidak selalu khawatir terhadap masa depan. Kadang, tanpa sadar, kita tumbuh menjadi seseorang yang dulu tidak pernah kita bayangkan.

The Slow Collapse of Who We Were

KawanWH, hidup hari ini sering kali terasa seperti serangkaian longsor kecil. Tidak selalu berupa tragedi besar, tetapi perubahan-perubahan diam yang mengikis kita sedikit demi sedikit. Gagal memenuhi ekspektasi. Kehilangan arah. Pertemanan yang renggang. Hubungan yang berubah. Tekanan untuk terus terlihat baik-baik saja. Semua itu pelan-pelan mengubah cara seseorang memandang hidup.

Itulah mengapa Landslide terasa begitu personal bagi banyak orang. Lagu ini tidak menawarkan solusi ajaib atau akhir yang sempurna. Ia hanya mengingatkan bahwa perubahan memang menakutkan, meskipun itu tetap bagian menjadi manusia. Bahwa menjadi berbeda dari diri kita yang dulu bukan berarti gagal, melainkan tanda bahwa hidup telah membawa kita melewati banyak hal.

Seperti gunung yang perlahan berubah bentuk karena waktu, manusia pun demikian. Dan mungkin, kedewasaan memang bukan soal menjadi lebih kuat sepanjang waktu, tetapi belajar menerima bahwa diri kita akan terus berubah—meski kadang perubahan itu terasa seperti kehilangan.