What You Might Have Missed: May Edition

Pasukan Israel Tangkap Relawan Indonesia dalam Misi Bantuan ke Gaza

Pasukan laut Israel menghentikan armada bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 yang tengah berlayar menuju Gaza di Laut Mediterania pada 18 Mei 2026. Misi tersebut bertujuan mengirim bantuan bagi warga Palestina yang masih menghadapi krisis kemanusiaan berkepanjangan. Menurut laporan BBC News Indonesia, sejumlah warga negara Indonesia turut berada dalam rombongan tersebut. Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) menyebut bahwa lima WNI ditahan oleh tentara Israel saat proses pencegatan berlangsung, sementara empat WNI lainnya masih melanjutkan perjalanan menuju Gaza bersama armada yang tersisa. Global Sumud Flotilla menilai tindakan Israel sebagai “agresi ilegal di laut lepas” karena armada tersebut merupakan kapal sipil tak bersenjata yang membawa bantuan berupa makanan, susu formula bayi, dan perlengkapan medis. Kementerian Luar Negeri RI juga telah menyampaikan nota protes resmi kepada Israel dan mendesak pembebasan seluruh WNI yang ditahan. Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa partisipasi warga Indonesia dalam misi kemanusiaan merupakan bentuk solidaritas yang sah dan akan terus memantau situasi melalui perwakilan diplomatik di kawasan.

Dollar Going Crazy Again? Rupiah Drops and Indonesians Start Feeling the Heat

Nilai tukar rupiah kembali melemah hingga menyentuh Rp17.664 per dolar AS pada 21 Mei 2026, menjadi level terendah sejak krisis moneter 1997–1998. Pelemahan ini dipengaruhi oleh faktor global dan domestik. Dari sisi global, dolar AS tetap kuat akibat ekspektasi bahwa The Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi sepanjang 2026. Dari dalam negeri, pasar menyoroti risiko fiskal akibat ekspansi belanja pemerintah untuk program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih. Di tengah situasi tersebut, pernyataan Presiden Prabowo Subianto saat peresmian Kopdes Merah Putih di Nganjuk menjadi sorotan publik. “Mau dolar berapa ribu pun, kan kalian di desa-desa nggak pakai dolar,” ucapnya dalam peresmian Kopdes Merah Putih. Sejumlah ekonom menilai depresiasi rupiah tetap berdampak pada kenaikan harga barang impor, subsidi energi, dan inflasi yang menekan daya beli masyarakat. Respons negatif juga muncul di media sosial. Analis ekonomi memperingatkan bahwa jika rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS, tekanan terhadap ekonomi Indonesia dapat semakin besar.

Nadiem Makarim, Chromebook dan Pertanyaan yang Belum Terjawab

Nadiem Makarim tengah menghadapi kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook di Kemendikbudristek periode 2020–2022 senilai Rp9,3 triliun. Pada Mei 2026, jaksa menuntut Nadiem dengan hukuman 18 tahun penjara, denda Rp1 miliar, dan uang pengganti sebesar Rp5,6 triliun. Kasus ini bermula dari proyek pengadaan laptop berbasis Chrome OS yang ditujukan untuk mendukung pembelajaran jarak jauh selama pandemi.“Apakah saya terlibat dalam penentuan harga? Apakah saya terlibat dalam seleksi vendor? Menteri tidak pernah terlibat dalam proses teknis pengadaan, hanya sebatas kebijakan.” — Nadiem Makarim, dalam sidang pemeriksaan terdakwa. Jaksa menilai Nadiem telah merancang kebijakan yang menguntungkan ekosistem Google dan berkaitan dengan investasi Google di perusahaan yang pernah dipimpinnya, yakni Gojek. Sebagai bukti, jaksa menyoroti lonjakan kekayaan Nadiem serta aliran dana ke PT Gojek Indonesia. Namun, pihak kuasa hukum membantah seluruh tuduhan tersebut. Menurut Todung Mulya Lubis, tidak terdapat mens rea atau niat jahat dalam kasus ini. Ia menjelaskan bahwa kenaikan kekayaan Nadiem berasal dari IPO saham GOTO, bukan dari hasil korupsi. Nadiem juga menegaskan bahwa dirinya tidak terlibat langsung dalam proses teknis pengadaan, melainkan hanya pada level kebijakan sebagai menteri.

“Tax The Rich!”: The Zohran Mamdani Policy That’s Shaking America’s Elite

Zohran Mamdani menjadi salah satu tokoh politik progresif yang menarik perhatian di Amerika Serikat setelah terpilih sebagai Wali Kota New York City pada November 2025. Ia dikenal dengan agenda ekonomi progresif yang menekankan kenaikan pajak bagi kelompok kaya. Di tengah defisit anggaran New York yang mencapai lebih dari US$12 miliar, Mamdani tetap mendorong kebijakan redistribusi ekonomi meski mendapat penolakan dari Gubernur New York Kathy Hochul. Salah satu kebijakan yang berhasil diperkenalkan adalah pajak pied-à-terre, yaitu pajak tambahan untuk properti bernilai lebih dari US$5 juta yang dimiliki oleh non-residen New York City. Selain itu, Mamdani mengusulkan program-program sosial seperti layanan bus cepat gratis, toko sembako milik pemerintah kota, dan subsidi penitipan anak. Seluruh program tersebut direncanakan dibiayai melalui tambahan pajak bagi warga berpenghasilan tinggi dan kenaikan pajak korporasi. Meski banyak pihak menganggap kebijakan tersebut terlalu ambisius, Mamdani berhasil membangun dukungan publik melalui gerakan massa dan kampanye “Tax the rich!” yang terus ia bicarakan di ruang publik.

From Elon Musk to Tim Cook: The Power Players Joining Trump in Beijing

Kunjungan Donald Trump ke Beijing pada Mei 2026 menjadi perhatian dunia karena menandai kunjungan pertama presiden Amerika Serikat ke Tiongkok dalam hampir sembilan tahun terakhir. Selain membawa pejabat tinggi seperti Marco Rubio dan Pete Hegseth, Trump juga datang bersama sejumlah tokoh bisnis besar Amerika Serikat, termasuk Tim Cook, Elon Musk, dan eksekutif dari Apple, Tesla, Boeing, serta Goldman Sachs. Pertemuan antara Trump dan Xi Jinping membahas berbagai isu strategis seperti perdagangan, Iran, Taiwan, AI, fentanyl, hingga impor produk pertanian AS. Trump mengklaim bahwa China akan membeli minyak dari AS dan memesan 200 pesawat Boeing. Namun, isu Taiwan tetap menjadi sumber ketegangan antara Washington dan Beijing. Xi Jinping memperingatkan bahwa persoalan Taiwan dapat memicu konflik besar, sementara Trump tidak memberikan kepastian terkait dukungan militer AS terhadap Taiwan. Meski tidak menghasilkan kesepakatan besar, pertemuan tersebut tetap dianggap penting karena menunjukkan upaya kedua negara menjaga komunikasi di tengah rivalitas geopolitik yang semakin meningkat.

The King Is in D.C.? Kunjungan Raja Charles III ke Washington

Raja Charles III melakukan kunjungan kenegaraan pertamanya ke Amerika Serikat pada 24–27 April 2026. Kunjungan ini dipandang bukan sekadar seremoni, melainkan sebagai upaya untuk memperkuat kembali kekuatan “special relationship” antara London dan Washington di tengah situasi geopolitik yang semakin kompleks. Pengumuman Buckingham Palace pada 31 Maret 2026 mengenai kunjungan Raja Charles III bersama Ratu Camilla langsung menarik perhatian publik. Kunjungan ini dimaknai sebagai momen penting baginya untuk melanjutkan warisan diplomatik Elizabeth II, yang selama masa pemerintahannya dikenal aktif menjaga hubungan erat Inggris–Amerika di berbagai krisis global. Agenda di Washington D.C. mencakup upacara kenegaraan di Gedung Putih, termasuk jamuan teh bersama Donald Trump, serta pidato di Kongres AS. Di New York City, Charles dan Ratu Camilla menghadiri peringatan 25 tahun serangan 11 September 2001 serta bertemu para penyintas dan keluarga korban di Lower Manhattan. Sementara di Virginia, keduanya menjalani agenda kunjungan budaya dan lingkungan, termasuk peninjauan kawasan taman nasional dan kegiatan publik. Di balik rangkaian seremoni tersebut, kunjungan ini membawa bobot politik yang signifikan, termasuk perbedaan pandangan terkait Iran serta sorotan terhadap skandal Jeffrey Epstein. Meski demikian, sejumlah pengamat menilai Charles memiliki modal diplomatik tersendiri, termasuk hubungan personal yang relatif hangat dengan Trump. Dalam konteks ini, kunjungan tersebut dipandang sebagai ujian relevansi monarki Inggris dalam menjaga stabilitas hubungan Inggris dan Amerika di era modern.