KawanWH, belakangan ini waktu rasanya berjalan terlalu cepat, gak sih?
Dalam dunia yang sesak oleh internet, waktu seolah habis begitu saja. Bukan karena kita benar-benar tidak punya waktu, tapi karena perhatian kita terus terpecah. Lima menit untuk satu video, pindah ke cuitan di X, lalu tiba-tiba satu jam menguap tanpa meninggalkan ingatan yang benar-benar melekat. Tanpa disadari, cara kita menjalani waktu ikut berubah.
Kini, waktu terasa seperti potongan-potongan kecil yang cepat datang dan hilang. Padahal, waktu tidak pernah benar-benar pergi tanpa meninggalkan jejak. Proses pembentukan diri justru ditempa pada kebiasaan yang dianggap remeh di keseharian kita.
Kuasa Si Algoritma
Obrolan soal waktu tentu gak bisa lepas dari “masa” yang menemaninya. Sejak awal tahun 2010, media sosial mulai menjadi bagian lebih besar dari rutinitas kita. Akhirnya, perhatian dan waktu kita menjadi barang dagangan yang diperebutkan habis-habisan oleh algoritma. Inilah yang disebut sebagai attention economy.
Dalam jangka panjang, kondisi ini tidak hanya mempengaruhi cara waktu dihabiskan, tetapi juga cara identitas terbentuk. Preferensi, opini, hingga cara berekspresi banyak dibentuk oleh paparan yang berulang. Tidak hanya itu, banyak orang lebih sibuk membangun representasi digital atas dirinya. Istilah seperti cleangirl, alt, atau quiet luxury menunjukkan betapa mudahnya identitas dikategorikan dan ditampilkan.
Patologi Eksistensi di Panggung Layar
Dunia digital hari ini memaksa kita pada hukum baru; tentang keharusan untuk ditonton agar tidak terasing. Persis seperti panggung tanpa penonton yang membuat pelakonnya merasa tak eksis. Padahal kita punya akal untuk membedakan mana hidup, mana konten. Namun nyatanya, sekarang eksistensi seakan-akan bukan lagi soal menjalani pengalaman hidup itu sendiri. Di titik ini, obsesi terhadap identitas digital berujung pada kejenuhan. Semua terasa harus ditampilkan harus relevan, dan harus terus bergerak.
The Constant Act of Performing
Film Eighth Grade (2018) karya Bo Burnham menunjukkan konflik “digital representation vs. lived experience” ini.
Di YouTube, Kayla adalah motivator ulung yang bicara soal kepercayaan diri, namun di sekolah ia justru terisolasi sebagai siswi “paling pendiam.”
Panggung sosial itu berpindah ke layar ponsel melalui Instagram dan Snapchat. Kayla menghabiskan malam menatap kurasi hidup orang lain yang tampak sempurna. la terjebak dalam kontradiksi bahwa membangun citra bijak di internet hanya butuh hitungan menit, sementara membangun diri di dunia nyata tetaplah proses yang lambat, berantakan, dan tidak seindah di layar.
Menjemput Realitas di Luar Layar
Pada akhirnya, kita harus paham bahwa di balik riuhnya lini masa, eksistensi kita tetap berpijak di luar layar, dalam waktu dan kebaharian hidup yang sering kali luput dari perhatian.
Jadi bagaimana KawanWH?have u been ‘living’ enough? Are you yourself, or merely performing?