Pernah ga sih,KawanWH, merasa hidup sebagai mahasiswa aja sudah cukup berat? Di tengah hiruk pikuk kehidupan mahasiswa yang sibuk mencari jati diri, menentukan prioritas hidup, jatuh cinta, sampai mencoba bertahan dengan tugas dan deadline yang tidak ada habisnya, ada sebagian orang yang justru harus menjalani dua kehidupan sekaligus. Mereka tidak hanya dituntut untuk hadir di ruang kelas, tetapi juga untuk menampilkan yang terbaik di arena kompetisi. Menjadi seorang student athlete bukan hanya soal membagi waktu, tetapi tentang bagaimana tetap berdiri di tengah dua dunia yang sama-sama menuntut komitmen penuh.
Berangkat dari realita tersebut, dalam sebuah kesempatan, Siti berbincang dengan Kanaya Anindita, seorang atlet tim nasional wakeboard yang berhasil membawa pulang medali perak pada ajang SEA Games 2025 di Thailand. Dari perbincangan tersebut, terungkap bahwa di balik pencapaiannya, ada perjalanan panjang yang tidak selalu terlihat dari luar—sebuah perjalanan yang, menariknya, tidak dimulai dari mimpi besar, melainkan dari sebuah kebetulan kecil.
Langkah Kecil yang Membuka Jalan Panjang
Semua berawal saat Kanaya masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, ia hanya mengiyakan ajakan untuk bermain ski air di Ancol. Tidak ada rencana, tidak ada target, apalagi bayangan untuk menjadi atlet profesional. Namun, dari momen sederhana itu, sesuatu berubah. Ia secara tidak sengaja dilihat oleh tim scouting DKI Jakarta, yang kemudian membuka jalan baginya untuk masuk ke dunia wakeboard secara lebih serius.
Dari situlah perjalanan panjang itu dimulai. Apa yang awalnya hanya sekadar “coba-coba” perlahan berubah menjadi komitmen jangka panjang. Tahun demi tahun ia jalani, hingga tanpa terasa, lebih dari satu dekade telah ia habiskan di olahraga ini. Sejak kecil, rutinitas Kanaya sudah jauh dari kata biasa. Saat teman-temannya menikmati waktu istirahat sekolah untuk bersantai, ia justru harus berpindah tempat. Diantar oleh ibunya ke Danau Sunter, ia memanfaatkan waktu singkat itu untuk latihan, sebelum akhirnya kembali lagi ke sekolah untuk melanjutkan pelajaran seperti biasa. Pola ini terus berulang, membentuk disiplin yang mungkin tidak semua orang seusianya miliki saat itu.
Di Antara Akademik, Olahraga, dan Pengorbanan
Memasuki masa kuliah, tantangan yang dihadapi Kanaya tidak serta-merta berkurang, justru semakin kompleks. Sebagai mahasiswa Psikologi Universitas Padjadjaran, ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan tuntutan akademik yang lebih tinggi. Di saat yang sama, rutinitas latihannya tetap tidak bisa ditinggalkan. Untuk menjaga keduanya tetap berjalan, ia memilih untuk bolak-balik ke Jakarta setiap minggu, baik dengan menyetir sendiri maupun menggunakan travel. Perjalanan yang mungkin terasa melelahkan bagi sebagian orang, namun bagi Kanaya, hal tersebut merupakan bagian dari komitmen yang telah ia pilih.
Menariknya, di tengah kesibukan tersebut, Kanaya tidak pernah benar-benar melihat hidupnya sebagai pilihan antara akademik atau olahraga. Ia tidak merasa harus mengorbankan salah satu demi yang lain. Sebaliknya, ia berusaha mencari titik temu di antara keduanya. Dalam cara pandangnya, akademik adalah kewajiban yang harus diselesaikan, olahraga adalah pilihan yang ia jalani dengan penuh kesadaran, dan organisasi merupakan ruang untuk mengembangkan kemampuan yang akan ia butuhkan di masa depan.
Prinsip tersebut tidak hanya berhenti sebagai cara berpikir, tetapi juga tercermin dalam tindakan nyata. Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa dan atlet, Kanaya bahkan sempat menjabat sebagai Kepala Departemen BEM Unpad—sebuah posisi yang tentu saja menuntut waktu, tenaga, dan tanggung jawab yang tinggi.Namun, di balik semua itu, Kanaya juga menyadari bahwa menjadi seorang student athlete bukan hanya tentang pembentukan diri, tetapi juga tentang pengorbanan. Menjalani dua kehidupan sekaligus berarti ada hal-hal yang harus dilepaskan, terutama dalam aspek sosial. Ada waktu yang tidak bisa ia habiskan bersama teman-teman sebayanya dan ada momen-momen yang terlewat begitu saja. Meski demikian, hal tersebut menjadi bagian dari proses yang ia jalani selama masa studinya.
Tentang Bertahan dan Menemukan Arti
Walaupun terdapat momen-momen yang tidak bisa ia bagi bersama teman-teman sekolahnya. Ada waktu-waktu yang terlewat,serta pengalaman yang tidak sepenuhnya bisa ia rasakan seperti kebanyakan orang seusianya. Namun, ia tidak melihat hal tersebut sebagai kehilangan semata, Kanaya memilih untuk beradaptasi. Ia membangun lingkungan pertemanan yang memahami dan mendukung perjalanannya, sehingga ia tidak benar-benar merasa sendirian.
Dari seluruh proses yang ia lalui, satu hal yang paling melekat adalah bagaimana ia belajar untuk menghadapi rasa takut. Perjalanan panjang yang dijalaninya tentu tidak selalu mulus. Pasti kerap ada tekanan, kelelahan, hingga momen di mana segalanya terasa berat. Namun, bukanlah mundur, ia justru memilih untuk tetap melangkah, bahkan ketika keadaannya tidak berjalan seirama dengan yang ia harapkan.
Kanaya menegaskan dengan keras bahwa, tidak ada penyesalan dalam perjalanan ini. Semua yang telah ia jalani terasa sepadan, karena ia tahu bahwa ia telah berani mencoba—bahkan terhadap hal-hal yang dulu sempat ia takuti dan terasa tidak realistis untuk dijalani bersamaan. Dalam dirinya, selalu ada keyakinan bahwa setiap langkah yang ia ambil akan selalu memiliki makna yang bermanfaat bagi dirinya.
Pada Akhirnya…
Kini, Kanaya Anindita dikenal sebagai seorang peraih medali SEA Games sekaligus sarjana Psikologi Universitas Padjadjaran. Namun, kisah yang ia lalui bukan hanya tentang bagaimana seseorang mampu berprestasi di dua bidang sekaligus. Jika dilihat dalam skala yang lebih besar, ini adalah cerita tentang memahami pilihan hidup, bertahan dalam proses, dan menemukan keseimbangan di tengah tuntutan yang rumit dan tak pernah benar-benar berhenti.
Kanaya meninggalkan satu kalimat untuk KawanWH: Stay focused, be consistent, take all risks, and never lose hope. Karena, mungkin perjalanan hidup tidak melulu tentang seberapa berat yang harus dijalani, melainkan juga tentang seberapa jauh dedikasi seseorang untuk bisa terus melangkah ditengah segala rintangan yang sedang dijalani.KawanWH,pada akhirnya, keberanian untuk tetap berjuang meski pelan, meski tidak sempurna adalah hal yang paling berarti. Karena setiap langkah yang kita ambil hari ini, sekecil apa pun, tetap membawa kita lebih dekat pada versi diri yang sedang kita perjuangkan!