Hai KawanWH! Kalian pernah melihat orang dengan rambut gondrong, kaos hitam dengan elemen yang aneh, dan boots besar? Banyak yang langsung judging duluan lho, karena terkesan menyeramkan atau arogan. Padahal mereka adalah Metalhead, penggemar musik metal yang sering disalah pahami baik dari penampilannya maupun selera musiknya. Tapi apakah dengan penampilan yang sangar dan musik yang keras mencerminkan sifat para Metalhead? Atau justru karena kita terlalu cepat menilainya? Check it out!
Metal 101: More Than Just Noise
Nah KawanWH, Musik metal itu muncul pada era 1960-1970-an, dengan pelopornya Black Sabbath, Led Zeppelin, dan Deep Purple. Seiring waktu, berkembang berbagai subgenre seperti heavy metal, thrash metal, death metal, black metal hingga metalcore dengan ciri khas suara, lirik, dan gaya penampilan tersendiri. Di Indonesia sendiri ada Burgerkill, Deadsquad, dan Jasad dengan basis fans yang aktif dan kuat. Adakah dari KawanWH yang mengenal atau fans band-band tersebut? Kalau iya, para fans nya disebut Metalhead, bukan hanya suka dengan musik keras, tapi merasa relate dengan nilai yang dibawakan oleh musik metal itu sendiri. Musik metal itu sebagai bentuk ekspresi kebebasan, perlawanan terhadap sistem yang kaku, dan cara jujur meluapkan emosi. Sayangnya KawanWH, masih banyak orang yang memberikan diskriminasi terhadap identitas Metalhead. Melalui gaya berpakaian yang nyentrik, kerap dicap sebagai orang yang arogan dan rusuh. Tidak hanya itu, musik metal dianggap aneh dan berisik, walaupun maknanya mendalam pada musik metal.
“Fade to Black” & Feelings That Hit Deep
KawanWH! stigma terhadap lagu metal itu bukan hanya sekedar berisik dan membuat banyak orang pusing karena memiliki kesan musik yang marah-marah. Tapi siti punya satu lagu yang bisa buktikan kalau stigma tersebut keliru! Seperti lagu metal yang legendaris, “Fade to Black” dari Metallica. Lagu tersebut berbeda dengan stigma orang-orang, liriknya suram, nuansa nya pelan, dan isinya tentang seseorang yang kehilangan harapan hidup. Banyak Metalhead bilang, lagu tersebut menyuarakan rasa sakit yang sulit untuk mereka ungkapkan sendiri, bahkan ada yang merasa terselamatkan hidupnya karena lagu tersebut. Jadi KawanWH, melalui lagu tersebut bisa melihat, bahwa stigma yang ada itu tidak benar. Lagu-lagu metal memiliki makna emosional yang mendalam, bisa lebih peka dan jujur secara emosional. Hal tersebut menjadi bukti bahwa, lagu metal is more than noise, there’s story behind!
Screams or Therapy?
KawanWH mungkin penah berpikir, apakah manfaat mendengarkan atau menyanyikan lagu metal? ternyata ada lho, penelitian dari University of Queensland kalau mendengarkan musik ekstrem seperti metal saat sedang marah, tidak membuat seseorang makin agresif lho, malah membantu meredakan emosi dan merasa lebih tenang. Hal itu disebut katarsis, yaitu proses pembersihan atau menyalurkan emosi negatif secara sehat. Itulah sebabnya banyak Metalhead punya kecerdasan emosional yang baik. Bahkan, di konser metal yang terlihat “liar”, solidaritas tetap terasa: jika jatuh di mosh pit (gerakan energik di konser metal) sigap membantu. Banyak musisi metal vokal soal isu kesehatan mental, bullying, dan trauma pribadi, lho KawanWH!
Nah KawanWH, ternyata Metalhead bukan sekedar soal kaos hitam dan musik keras. It’s beyond the noise, it’s about the truth of Metalhead! Stigma yang melekat pada Metalhead sering muncul karena judging yang terburu-buru. Padahal, kalau kita mau melihat lebih dalam, ada cerita dan makna yang justru mengajarkan soal keberanian dan empati. Jadi, yuk mulai melihat dan dengar lebih terbuka. Karena mereka hanya memilih cara berekspresi unik dan itu bukan hal yang tabu.