Pada Kamis (15/5), Menteri Pertahanan India, Rajnath Singh, mengkritik masalah keamanan senjata nuklir milik Pakistan. Mengutip dari CNN, Singh mempertanyakan keamanan senjata nuklir Pakistan, “Saya ingin bertanya kepada dunia, apakah senjata nuklir aman di tangan negara yang tidak bertanggung jawab? Saya yakin senjata nuklir Pakistan harus berada di bawah pengawasan IAEA (Badan Tenaga Atom Internasional).” Menanggapi pernyataan tersebut, Pakistan tidak tinggal diam. Melalui Kementerian Luar Negerinya, pihaknya segera menanggapi India dan menuduh balik bahwa India lah yang justru memiliki masalah terkait perdagangan bahan nuklir ilegal. “Seharusnya IAEA dan komunitas internasional justru lebih mengkhawatirkan kasus pencurian berulang dan perdagangan ilegal bahan nuklir dan radioaktif yang terjadi di India,” kecam Kementerian Luar Negeri Pakistan.
Ketegangan antara kedua negara ini sendiri merupakan dampak atas serangan militan di Kashmir yang menewaskan 26 warga sipil, dimana sebagian besarnya merupakan wisatawan India. New Delhi menuduh Islamabad mendukung kelompok militan yang dianggap bertanggung jawab atas serangan tersebut. Meskipun tuduhan tersebut telah dibantah keras oleh pihak Pakistan, tetap saja konflik antara kedua negara tersebut tidak terhindarkan dan sejak Rabu (7/5) keduanya telah terlibat konflik bersenjata.
Mengutip dari BBC, menurut lembaga riset Stockholm International Peace Research Institute (Sipri), India dan Pakistan masing-masing memiliki sekitar 170 hulu ledak nuklir. Meskipun India, pada tahun 1998 mengadopsi kebijakan “tidak menggunakan senjata nuklir terlebih dahulu,” namun, Pakistan tidak memiliki kebijakan serupa. Apabila terus berlanjut, dikhawatirkan tidak hanya akan menyebabkan kerusakan fisik, melainkan kehancuran jangka panjang secara sosial dan ekologis. Seorang pakar strategi asal India, Sushant Sareen, memperingatkan bahwa jika kedua negara terus saling serang, maka konflik dapat berkembang menjadi perang rudal yang merusak kedua belah pihak. Kota-kota besar seperti Islamabad, Lahore, dan New Delhi akan menjadi sasaran utama. Rudal yang menghujani kota-kota tersebut tidak hanya akan melukai ribuan warga sipil, tetapi menghancurkan infrastruktur dasar, melumpuhkan perekonomian, dan menimbulkan efek kerusakan yang berkepanjangan. Melansir dari Kompas, Minggu (4/5), Sareen menekankan, “Jika rudal akan menghujani kota satu sama lain, maka jika Islamabad dan Lahore rentan, maka New Delhi juga rawan.” Ia juga menyoroti betapa besar akibat yang akan ditanggung oleh penduduk sipil, dimana sangat rentan dalam kondisi seperti itu. Pihaknya mengingatkan pemerintah pentingnya menyadari dampak konflik pada masyarakat, “Sangat penting bagi kita untuk mempersiapkan masyarakat kita bahwa ada akibat dan risiko besar yang menyertai setiap tindakan,” jelasnya.